HOLY LAND OF ISRAEL

 

 

Negara Israel dibagi menjadi 3 wilayah:

1.  Utara:  Wilayah Galilea.

2.  Tengah:  Wilayah Samaria.

3.  Selatan:  Wilayah Judea.

 

Israel 'Tanah Terjanji'

 

Sejarah Yahudi dan Israel
 
Studi sejarah yang didasarkan penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, awal bangsa Yahudi erat hubungannya dengan kisah Abraham (nabi Ibrahim AS) yang diperkirakan terjadi kurang lebih 4000 tahun yang lalu atau 2000 tahun sebelum kelahiran Yesus (Isa Almasih).
Abraham diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Hebron (Al-Khalil), tinggal di sana bersama Lut (QS, 21:69-71). Putra Abraham adalah Ismail dari ibu Hagar (Siti Hajar) dan Ishak dari ibu Sarah. Kemudian Ishak berputra Jakub dengan 12 putranya yang menurunkan bangsa Israel dan kemudian dikenal sebagai 12 suku Israel.
Putra kesayangan Yakub adalah Yusuf, setelah ditinggalkan di padang pasir dan dijual oleh kakak-kakaknya, berhasil menjadi kepala bendahara di Mesir. Yakub serta kakak-kakaknya menyusul Yusuf ke Mesir dan hidup damai di sana sampai suatu hari Firaun yang berkuasa memperbudak keturunan mereka yang dikenal dengan bani Israel.
Karena kekejaman Firaun terhadap bani Israel, Allah mengirimkan Musa, dan memerintahkan untuk membawa bani Israel keluar dari tanah Mesir. Musa bersama rombongannya meninggalkan Mesir dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1200 SM. Mereka tinggal di semenanjung Sinai dan sebelah timur Kanaan. Dalam Al-Qur'an, Musa memerintahkan bani Israel untuk memasuki Kanaan (Qur'an 5:21).
Setelah Musa, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Daud menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Salomo, didirikanlah Bait Allah (the First Temple atas Perintah Allah kepada Salomo), serta batas-batas Israel diperluas dari sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Syria sekarang di utara.
Setelah Salomo wafat, kerajaan Yahudi terbelah: di utara adalah Israel dengan ibukota Samaria, dan di selatan adalah Judah dengan ibukota Yerusalem. Dengan berlalunya waktu, Israel kalah perang dengan bangsa Asyria (the First Temple dihancurkan), dan orang-orang Israel diboyong ke sana sebagai budak. Sedangkan Judah (terdiri suku Yehuda dan Lewi) jatuh di bawah Babilon yang akhirnya ditaklukkan bangsa Persia. Ketika raja Persia Kyros 539 SM, mengizinkan orang Yahudi kembali ke tanah mereka di Judah dan Israel.
63 SM Judah dan Israel jatuh ke tangan orang Romawi, yang pada tahun 70 berhasil menghancurkan pemberontakan Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah bangsa Israel (the Second Temple yang dibangun Nehemia, dan diperluas oleh Raja Herodes untuk menarik simpatik rakyat Yahudi waktu itu). Seluruh rakyat Israel dikejar dan diusir keluar dari negeri Israel (Judah dan Israel), dan mereka semua berpencar tercerai berai (Diaspora) seantero dunia.
 

Large Map of Abraham's Journey to Egypt and Land of Palestine (Promised Land)


Awal terbentuknya Israel kembali
Setelah itu kehidupan orang Yahudi hanya ada dalam pelarian dan pengejaran. Baru di kekalifahan Usman, orang Yahudi dapat merasakan kehidupan yang damai dengan membayar pajak perlindungan. Akhir abad ke 19, ditunjang oleh Jewish Colonization Assocation, Baron Hirsch, Yahudi dari Eropa Timur beremigrasi ke Argentina dan membentuk kolonialisme pertanian, untuk kembali ke Palestina. Ini dimulai tahun 1881.
1896 Theodor Herzl kelahiran Budapest membuat Negara Yahudi. Tujuannya untuk membuat negara bagi orang Yahudi di Palestina, didukung oleh uang hasil sumbangan dari seluruh orang Yahudi di dunia. Herzl ini juga dikenal pendiri Zionisme (gerakan kembali ke tanah Israel yang mengambil nama suatu daerah, bukit Zion).
1914 di Palestina hidup 1200 orang Yahudi. Setelah kekalahan kekalifahan Usman di perang dunia 1, Palestina menjadi bola permainan para penguasa. Para Zionis ada di sisi Inggris dan Amerika.
1917 Tanggal 2 Nopember menteri luar negeri Inggris, Lord Balfour menandatangani Deklarasi Balfour untuk membangun negara Yahudi. Sebulan kemudian masuklah tentara Inggris ke Yerusalem.
1920 Gabungan negara-negara menyerahkan mandat Palestina ke Inggris. Akibatnya datanglah 75.000 lagi orang Yahudi ke Palestina. Negara-negara Arab tidak menyetujui didirikannya negara Yahudi di Palestina.
1922 Transjordania dipisahkan dari daerah mandat. Sebagai perwakilan orang Yahudi dibuatlah Jewish Agency. Di tahun ini hidup kurang lebih 80.000 orang Yahudi di Palestina
1933 Dimulai pengejaran secara sistematis orang Yahudi di Jerman.
1936 Masyarakat Arab menentang politik masuknya orang Yahudi ke Palestina, tetapi orang Yahudi dibantu oleh tentara Inggris.
1937 Sesudah pemerintah mandat membatasi imigrasi dan pembelian tanah oleh orang Yahudi, timbul ketegangan yang dilakukan oleh organisasi bawah tanah Yahudi terhadap orang Inggris.
1939 Pendidikan sebuah brigade Yahudi untuk memasukkan orang Yahudi ke Palestina
1945 Komisi Inggris-Amerika menganjurkan penerimaan 100.000 orang Yahudi di Palestina, tapi kemudian ditolak oleh Inggris sehingga menyebabkan kerusuhan di antara Yahudi-Palestina.
1947 UNO menganjurkan pemisahan Palestina dan pembentukan negara Yahudi dan Arab. Perang antara Yahudi dan Arab menghindarkan dilanjutkannya rencana itu.
1948 Inggris mengakhiri mandatnya atas Palestina dan tanggal 14 Mei meninggalkan Palestina. Tentara Yahudi memasuki Palestina dan mengusir orang Palestina yang didukung oleh negara-negara Arab. Di hari yang sama Ben Gurion menyerukan kemerdekaan Israel di kota yang dibentuk mereka, Tel Aviv, sehingga kemudian menyebabkan perang hari pertama Timur Tengah.
1949 Setelah Israel menang perang, Israel diakui sebagai negara oleh UNO. Karena itu hiduplah ratusan ribu orang Palestina di pengasingan terutama di Gaza. Pemerintah Israel mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota. Di Palestina ada sekitar 650.000 orang Yahudi.
(Sumber: http://de.wikipedia.org/wiki/Judentum)

 

Anak laki Yahudi Orthodox berdoa

 

There are a variety of Orthodox Jewish groups living in Jerusalem. They do not always see eye to eye. Once when an Orthodox leader was asked which religion was closest to Judaism he thought about it for a while, and replied it was one of the other Orthodox groups.

Jews are not supposed to convert other Jews. You can convert to Judaism but many Jews seem to believe it is their duty to talk you out of it first, to see if you really want to be like them. But at least some Orthodox are free to convert secular Jews into religious Jews.

 

Kelompok menyanyi dan menari bersama antar orang Yahudi


This does not necessarily make sense until you realise that being "Jewish" refers to at least two different ways of living. You can be Jewish because you were born to a Jewish mother even if you do not believe in God and undertake no religious practices. In this sense it is like an ethnicity. But you can also be Jewish in the sense that you follow Jewish religious traditions, of which there are more than a few to choose from.
Some places are full of men. There are no women to be found studying Judaism here. Their role is to stay at home, have children, raise them, and if possible earn an income too. Rumours have it that their men spend all the time studying the Talmud, which is Jewish religious law. Like any religion Judaism is constantly evolving and adapting to the times -- as well as insisting that the times adapt to it -- so there is plenty to study and a lot to pray for. These fellows can be pretty conservative. They have a huge sign at the entrance to their community pleading with women not to enter wearing what they consider to be immodest dress.

 

 

Sejarah Perang Israel-Palestina

 

Masalah Israel - Palestina adalah masalah perebutan teritori yang telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, ketika Islam masih belum eksis (belum ada) sebagai sebuah agama.
Amat disayangkan apabila sentimen agama harus diangkat sebagai alat untuk memperoleh dukungan dari negara-negara lain. Hamas sebagai pemegang kendali politik Palestina seharusnya tidak bertindak seperti pengecut, dengan bangga meluncurkan misil ke Israel, namun ketika diserang balik berteriak-teriak seperti ibu tua yang dianiaya preman pasar. Hamas menabur misil, maka misil pula yang akan mereka tuai.
 

Brotherhood at Western Wall


Sekilas Sejarah Palestina
Bangsa Philistine yang asli sudah punah lebih dari 2500 tahun yang lalu!!
Bangsa Philistine (Filistin) adalah suatu bangsa pelaut, campuran berbagai macam etnis dari Turki dan Yunani (pulau Crete) yang berlayar dari Laut Aegea menuju wilayah Laut Mediterranea timur.
Satu kelompok Philistine tiba di Tanah Kanaan pada masa sebelum tahun 1600SM dan menetap di selatan dari Bersyeba di Gerar di mana mereka jatuh ke dalam konflik dengan Abraham, Ishak dan Ismail.
Satu kelompok Philistine yang lain, datang dari Crete setelah dipukul mundur oleh Ramses III setelah mencoba menginvasi Mesir pada tahun 1194SM, menguasai area pantai selatan, di mana mereka membangun lima kota-kota pemukiman (Gaza, Asdod, Askelon, Ekron dan Gat).

 

Yahudi bangsa pilihan Allah, terbukti nyata unggul segalanya di mana-mana seantero dunia hingga masa kini


Bangsa Philistine tersebut yang menjadi musuh bebuyutan bangsa Israel (Yahudi) yang juga pada masa itu tiba dan tinggal di tanah tersebut. Mereka bukanlah bangsa Arab. Mereka adalah bangsa keturunan Yunani. Jadi, Delilah dan Goliath yang disebut sebagai bangsa Philistine di dalam cerita agama (Kitab Suci) bukanlah bangsa Arab Palestina, melainkan bangsa Eropa.
Bangsa Philistine bahkan bukanlah bangsa Semitis. Mereka tidak berbahasa Arab. Mereka tidak ada hubungan etnis, bahasa atau sejarah dengan jazirah Arab atau bangsa Arab.
Pada zaman purbakala (tahun 1600SM) wilayah ini disebut sebagai Tanah Kanaan karena bangsa asli yang ada di sana adalah bangsa Kanaan (yang sekarang sudah punah).
Setelah bangsa Israel sampai di sana, membuat komunitas dan mendirikan kerajaan di sana (tahun 1020SM-586SM), maka Tanah Kanaan dikenal sebagai Tanah Israel.
 

Tradisi Circumcision (khitan) anak laki Yahudi sejak zaman Abraham


Mengapa Tanah Israel sekarang bernama Tanah Palestina?
Nama "Palestina" diberikan oleh penjajah Romawi kepada Tanah Israel kuno sebagai hukuman atas pemberontakan orang-orang Yahudi di Tanah Israel.
Nama "Palestina" ditemukan pada masa penjajahan Romawi di Tanah Israel (tahun 63 SM -313 M). Pada saat itu wilayah itu dikenal sebagai Yudea, suatu kerajaan selatan dari Israel kuno.
Penguasa Romawi yang bertanggungjawab atas daerah Judah-Israel begitu marah atas pemberontakan orang-orang Yahudi sehingga mencari tahu siapa musuh bebuyutan dari bangsa Yahudi di masa lalu mereka. Para ahli sejarah Romawi menyebut bangsa “Philistine” (Filistin). Maka penguasa Romawi menyatakan bahwa seluruh Tanah Judah-Israel selanjutnya bernama Tanah “Philistea” atau dalam bahasa Yunani-Romawi (Latin) diucapkan “Palastina” untuk menjengkelkan bangsa Yahudi. Pada saat yang sama nama ibukota Yerusalem milik bangsa Yahudi diubah menjadi Aelia Capitolina.
Nama "Falastin" yang dipakai orang Arab sekarang untuk "Palestina" bukanlah nama Arab. Ini adalah pengucapan bunyi Arab dari nama Latin "Palastina".
 

Hoshanah Rabbah Prayers

 


KONFLIK Wilayah, BUKAN Agama
Jauh sebelum orang Israel menguasai wilayah konflik tersebut, Palestina dikenal dengan nama Kanaan dan didiami oleh banyak suku bangsa: Kanaan, Amori, Hewi, Yebus, dsb. Selang sekian waktu setelah orang Israel merebut tanah Kanaan, mereka mendirikan kerajaan Israel Raya di wilayah tersebut yang mencapai masa keemasan di bawah kepemimpinan raja Salomo. Tapi setelah Salomo mangkat, kerajaan itu pecah menjadi kerajaan Israel dan Judah.
Ketika Assyria melakukan ekspansi, Israel takluk di tangan mereka dan dimusnahkan. Judah menyusul saudaranya kira-kira dua abad kemudian ketika Babilonia di bawah kepemimpinan Nebukadnezar menguasai wilayah selatan Palestina tersebut.

Setelah lewat beberapa waktu, kerajaan Persia bangkit sebagai kekuatan baru. Babilonia ditaklukkan Persia, yang kemudian orang Judah diizinkan kembali ke tanah air mereka dan diberi otonomi walaupun secara administratif masih berada di bawah otoritas kerajaan Persia. Setelah itu, berturut-turut wilayah itu jatuh ke tangan kekuasaan Yunani, Romawi, Romawi timur, Islam, Tentara Salib, Islam lagi, dan terakhir Inggris Raya. Jadi, praktis tidak pernah lagi ada negara berdaulat yang berdiri di wilayah itu sejak kerajaan Israel dan Judah ditaklukkan (kecuali fakta bahwa pada masa pra-kekuasaan Romawi sempat berdiri kerajaan Yahudi di bawah kepemimpinan dinasti Hasmonea).
Nama Palestina sendiri baru resmi dan populer digunakan untuk menyebut kawasan itu setelah meletusnya pemberontakan Simon bar Kokhba. Kaisar Hadrianus sengaja memberi nama Palestina untuk menekan sentimen nasionalisme Yahudi.
Akibat pemberontakan bar Kokhba, orang Yahudi diusir keluar dari tanah air mereka sendiri dan hidup sebagai pelarian. Baru setelah Islam menguasai wilayah tersebut di bawah kepemimpinan Khalifah umar bin khattab, orang-orang Yahudi diizinkan kembali ke Palestina.
Lama setelah Islam berkuasa di sana, kekaisaran Ottoman sebagai otoritas Islam yang berkuasa atas Palestina saat itu pecah. Wilayah itu lalu jatuh ke tangan Inggris. Tahun 1917 Menlu Inggris, Arthur Balfour mengeluarkan deklarasi Balfour yang tersohor itu yang isinya adalah janji untuk membentuk negara Yahudi di Palestina. Deklarasi ini kemudian diikuti oleh rentetan peristiwa yang cukup pelik. Inggris akhirnya malah lepas tangan dan menyerahkan perkara ini kepada PBB.
Tahun 1947 PBB mengajukan rencana pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara yang terpisah: negara Yahudi dan negara Arab. Para pemimpin Yahudi menyambut positif usulan ini, tapi para pemimpin Arab menolak mentah-mentah disusul oleh reaksi kekerasan dari komunitas Arab.

Mei 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaannya yang kemudian menyulut perang Arab-Israel dan terus berbuntut konflik sampai saat ini.
 

Rabbi Den Vincent menaruh kertas doa 'Our Father who art in Heaven' di sela-sela Tembok Ratapan Jerusalem

 

Meskipun memiliki catatan sejarah dalam Alkitab dan Alquran, negara Israel belum terbentuk sampai pada tahun 1948. Semenjak kehancuran Kerajaan Israel dan penjajahan yang dilakukan oleh Romawi, Israel mengalami diaspora, dan tidak pernah memiliki pemerintahan sendiri yang berdaulat, hal ini pula yang menyebabkan penyebaran umat Yahudi di seluruh penjuru dunia, khususnya di Eropa. Umat Yahudi berasimilasi dengan masyarakat di sekitarnya, namun tetap mempraktikkan ajaran-ajaran Yahudi. Pada awalnya tidak ada gerakan nasionalisme Yahudi yang mempunyai tujuan untuk kembali ke tanah Israel, karena pada umumnya warga Yahudi diterima di wilayah dimana mereka berasimilasi. Tetapi, setelah munculnya paham anti-semit di kawasan Eropa Timur dan Tengah, gerakan nasionalisme Yahudi muncul di kalangan Yahudi Eropa. Gerakan ini lazim disebut dengan Zionisme, gerakan ini lahir karena adanya diskriminasi berkepanjangan terhadap warga Yahudi di hampir seluruh wilayah Eropa, maka asimilasi bukan lagi menjadi pilihan bagi Yahudi apabila mereka ingin tetap hidup. Zionisme telah berhasil membangkitkan nasionalisme Yahudi yang berada di Eropa.
Ketika gerakan Zionisme mulai marak di kawasan Eropa, wilayah Palestina dan Israel yang kita kenal pada saat ini masih berada di bawah kekuasaan Imperium Ottoman yang selama kurang lebih 400 tahun berkuasa. Keperkasaan Imperium Ottoman di kawasan Timur Tengah berakhir karena disebabkan oleh dua hal, antara lain janji yang diberikan oleh Inggris kepada bangsa Arab akan pemerintahan yang independen jika bangsa Arab mau memberontak pada Imperium Ottoman serta kekalahan Imperium Ottoman pada saat Perang Dunia I. Akan tetapi janji Inggris terhadap Arab tidak segera diwujudkan, melainkan Inggris dan Perancis membuat perjanjian dengan membagi kekuasaan atas wilayah bekas kekuasaan Imperium Ottoman. Wilayah Palestina pada saat itu tidak diserahkan kepada negara manapun, melainkan dijadikan sebuah wilayah internasional yang dikelola secara bersama-sama di antara negara pemenang perang.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Inggris juga memberikan janji kepada bangsa Yahudi dengan mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina. Hal inilah yang menjadi landasan bagi gerakan Zionisme untuk mewujudkan visi terbentuknya negara Yahudi yang eksklusif dengan kembali ke tanah Palestina. Lahirnya janji-janji dari Inggris kepada Yahudi dan Arab telah melatarbelakangi konflik antara Arab dan Yahudi, yang didukung oleh Inggris dan merasa paling berhak untuk berada di wilayah Palestina. Dalam kurun waktu hampir 30 tahun selama pemerintahan mandat Inggris, telah terjadi beberapa konflik di antara bangsa Arab dan Yahudi yang berada di wilayah Palestina, Dalam kurun waktu ini pula terjadi Perang Dunia II di wilayah Eropa yang telah melahirkan tragedi holocaust, sehingga semakin menguatkan niat bangsa Yahudi di Eropa untuk kembali ke tanah Palestina.
Lahirnya PBB sebagai penerus tugas dari LBB, tidak banyak membantu penyelesaian konflik yang terjadi di wilayah Palestina. PBB berinisiatif membuat sebuah rancangan perdamaian untuk Arab dan Yahudi di Palestina dengan membuat pembagian wilayah, dimana negara Arab (45%) dan Yahudi (55%) dari total keseluruhan luas wilayah Palestina. Dalam rancangan ini, Jerusalem tidak ditempatkan di bawah penguasaan Arab ataupun Yahudi, tetapi dijadikan sebagai sebuah wilayah internasional yang diurus oleh PBB. Adanya penolakan dari bangsa Arab yang merasa diperlakukan tidak adil melalui resolusi PBB mengenai pembagian wilayah sehingga memicu kerusuhan di Jerusalem antara Arab dengan Yahudi. Penolakan dari bangsa Arab secara otomatis telah menggagalkan perdamaian ini.
Gagalnya mandat Inggris melalui PBB di Palestina, tidak menghambat bangsa Yahudi untuk mewujudkan visi dari Zionisme. Pada hari yang bersamaan dengan berakhirnya Mandat Inggris, David Ben Gurion yang mewakili Yahudi, memproklamirkan berdirinya Negara Israel, dan hanya dalam hitungan jam Amerika Serikat memberikan pengakuan terhadap negara Israel. Proklamasi kemerdekaan Israel ini menyulut kemarahan bangsa Arab, dan menimbulkan konflik bersenjata pertama antara bangsa Arab dengan Yahudi (Israel).
Kelahiran Israel pada 14 Mei 1948 telah memicu konflik berkepanjangan antara Arab dengan Israel. Konflik bersenjata pertama antara Arab dengan Israel atau yang dikenal dengan nama Al Nakhba terjadi beberapa hari sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Israel. Dukunganpun mengalir terhadap bangsa Arab yang berada di wilayah Palestina atas perlawanan terhadap Israel; antara lain: Irak, Yordania, dan Mesir. Walaupun dukungan mengalir terhadap bangsa Arab di Palestina, Israel dapat memenangkan perang pertamanya sejak berdiri sebagai sebuah negara. Pertempuran pertama antar kedua etnis ini berlangsung sekitar kurang lebih satu tahun, dan berakhir dengan sebuah perjanjian perdamaian antara Israel dengan negara-negara Arab di sekitarnya pada bulan Juli 1949. Dengan adanya perjanjian, maka eksistensi Israel sebagai negara ditegaskan dengan diterimanya sebagai anggota PBB.
Setelah konflik berakhir pada tahun 1949, Israel juga terpaksa berperang dengan negara-negara Arab pada tahun 1967. Israel melancarkan serangan pertamanya ke Mesir, yang dikhususkan ke pangkalan udara militer yang menjadi basis kekuatan Mesir, dan melanjutkan serangan pada Yordania, Syria, dan Lebanon. Perang yang dikenal sebagai Six Days War ini kembali dimenangkan oleh Israel, dan tidak hanya itu, Israel berhasil merebut wilayah Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir, Jerusalem Timur, dan Tepi Barat dari Yordania, dan juga Dataran Tinggi Golan dari Syria. Secara hitung-hitungan melalui kekuatan militer, aliansi kekuatan militer negara-negara Arab jauh lebih besar dibandingkan dengan Israel. Namun Israel berhasil memenangkan peperangan dan berhasil mengubah peta geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kekalahan negara-negara Arab dalam Six Days War tidak membuat konflik antara Arab dengan Israel berakhir. Pada tahun 1973, tepat sebelum peringatan hari Yom Kippur oleh Yahudi, kembali terjadi konflik bersenjata antara Arab dengan Israel. Yom Kippur War menjadi puncak konflik bersenjata antara Arab dan Israel. Dalam kekalahan perang 1979 ini, Mesir dan Yordania menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel, sehingga Israel bersedia mengembalikan Semenanjung Sinai dan Gaza kepada Mesir.
Kehadiran Palestine Liberation Organization (PLO) yang dibentuk pada tahun 1964 oleh Liga Arab sebagai representasi resmi bagi rakyat Palestina telah membuat perjuangan Palestina semakin terkontrol, dan memudahkan Palestina untuk ikut serta dalam konferensi-konferensi internasional. Hal itu dikarenakan status PLO sebagai gerakan pembebasan nasional yang diakui sebagai salah satu subyek hukum internasional. Meski telah memiliki organisasi yang resmi, masyarakat Palestina di tataran akar rumput tetap melancarkan perjuangannya secara otonom yang dikenal dengan “Intifada”. Salah satu ciri khas Intifada di Palestina adalah pelemparan batu yang dilakukan oleh rakyat Palestina terhadap angkatan bersenjata Israel. Lahirnya Intifada di Palestina telah menginspirasi beberapa pemimpin Palestina untuk memproklamasikan berdirinya negara Palestina pada tahun 1988. Semenjak tahun 1988, istilah “Palestina” untuk menggambarkan sebuah negara mulai dikenal. Meski pada tahun-tahun selanjutnya, PLO tetap menjadi representasi Palestina untuk berjuang di forum internasional, karena status Palestina sebagai negara belum diakui secara internasional.
 
 

 Israeli new shekel
שקל חדש (Hebrew)
شيقل جديد (Arabic)

 

HISTORICAL HIGHLIGHTS:

(BCE - Before the Common Era)
[17th century] The Patriarchs
[13th century] Exodus from Egypt
[13th-12th centuries] Israelite settlement of Land of Israel
[1020] Monarchy established: Saul, first king.
[1000] Jerusalem made capital of David's kingdom.
[960] First Temple, the national and spiritual center of the Jewish people, built in Jerusalem by King Solomon.
[930] Kingdom divided in two: Judah and Israel
[722-720] Israel crushed by Assyrians; 10 tribes exiled (the "Ten Lost Tribes").
[586] Judah conquered by Babylonia; Jerusalem and First Temple destroyed; Jews exiled to Babylonia.
[538-142] Persian and Hellenistic periods
[538-515] First Return from Babylon; Temple rebuilt.
[mid-5th century] Second Return: Ezra and Nehemiah
[332] Land conquered by Alexander the Great; Hellenistic rule.
[166-160] Maccabean (Hasmonean) Revolt
[142-129] Jewish autonomy under Hasmonean dynasty.
[129-63] Jewish independence in Hasmonean kingdom.
[63] Pompey at head of Roman army takes Jerusalem.
[63 BCE-313 CE] Roman rule


(CE - The Common Era)
[37 BCE - 4 CE] King Herod
[66] Jewish revolt against Rome
[70] Destruction of Jerusalem and Second Temple.
[73] Last stand of Jews at Masada.
[132-135] Bar Kokhba uprising against Rome.
[210] Mishnah completed (codification of Oral Law).
[313-636] Byzantine rule
[390] Completion of Jerusalem Talmud (commentary on the Mishnah).
[614] Persian invasion
[636-1099] Arab rule
[1099-1291] Crusader domination; Latin Kingdom of Jerusalem.
[1291-1516] Mamluk rule
[1517-1917] Ottoman rule
[1564] Publication of Shulhan Arukh (code of Jewish law).
[1860] First neighborhood, Mishkenot Sha'ananim, built outside Jerusalem's walls.
[1882-1903] First Aliya (large-scale immigration) from Russia.
[1897] First Zionist Congress convened by Theodor Herzl in Basel, Switzerland; Zionist Organization founded.
[1904-14] Second Aliya, mainly from Russia and Poland.
[1909] Degania, first kibbutz, and Tel Aviv, first modern all-Jewish city, founded.
[1917] British end 400 years of Ottoman rule; Balfour Declaration pledges British support for establishment of a "Jewish national home in Palestine".
[1918-48] British rule
[1919-23] Third Aliya, mainly from Russia
[1920] Histadrut (Jewish labor federation), and Haganah, (Jewish defense organization) founded. Arabs mount anti-Jewish riots. Jewish community sets up National Council (Vaad Leumi) to conduct its affairs.
[1921] First moshav, Nahalal, founded
[1922] Britain granted Mandate for Palestine (Land of Israel) by League of Nations and charged with facilitating "Jewish immigration and settlement on the Land". British set up Transjordan east of the Jordan River; Jews barred from settling there Jewish Agency set up to represent Jewish community vis-a-vis Mandate authorities.
[1924] Technion-Israel Institute of Technology opens.
[1924-32] Fourth Aliya, mainly from Poland.
[1925] Hebrew University of Jerusalem opens on Mt. Scopus.
[1929] Hebron Jews massacred by Arab militants.
[1931] Etzel, Jewish underground organization, founded.
[1933-39] Fifth Aliya, mainly from Germany.
[1936-39] Arab militants launch anti-Jewish riots.
[1937] Peel Commission proposes division of country into Jewish and Arab states.
[1939] British White Paper limits Jewish immigration.
[1939-45] World War 11; Holocaust in Europe.
[1941] Lehi underground movement formed, split from Etzel; Palmach, strike force of Haganah, set up.
[1944] Jewish Brigade formed as part of British forces.
[1947] UN proposes the establishment of Arab and Jewish states in the Land.
[1948] British Mandate ends (14 May).
State of Israel proclaimed (14 May).
Israel invaded by five Arab states (15 May).
War of Independence (May 1948-July 1949)
Israel Defense Forces formed.
[1949] Armistice agreements signed with Egypt, Jordan, Syria, Lebanon.
First Knesset elected.
Israel admitted to United Nations as 59th member.
[1948-52] Mass immigration from Europe and Arab countries.
[1950] Law of Return
[1956] Sinai Campaign
[1962] Adolf Eichmann tried and executed in Israel for his part in the Holocaust.
[1964] National Water Carrier, bringing water from north to semi-arid south, completed.
[1967] Six-Day War, Jerusalem reunited
[1968-70] War of Attrition
[1973] Yom Kippur War
[1975] Israel becomes associate member of European Common Market.
[1977] Likud comes to power, ending 30 years of Labor rule.
Egyptian President Sadat visits Jerusalem.
[1978] Camp David Accords signed.
[1979] Israel-Egypt Peace Treaty signed.
[1981] Memorandum of Understanding signed with United States
Iraq's nuclear reactor destroyed by Israel Air Force.
[1982] Israel's withdrawal from Sinai completed.
Operation Peace for Galilee launched by Israel to put an end to PLO attacks from Lebanon.
[1984] National unity government formed.
[1985] Free Trade Zone Agreement signed with U.S.
[1987] Widespread violent riots (intifada) break out in the areas administered by Israel since 1967.
[1988] Space satellite, Ofek 1, launched.
[1989] Four-point peace initiative proposed by Israel.
Mass immigration of Soviet Jews begins.
[1991] Iraq attacks Israel with ground-to-ground missiles during Gulf war.
Under American and Soviet auspices, Middle East peace conference convenes in Madrid.
[1992] Diplomatic relations established with China and India.
New Government, headed by Yitzhak Rabin of the Labor party.
[1993] Witnessed by the U.S. and Russia, Israel and the PLO sign a Declaration of Principles on Interim Self-Government Arrangements for the Palestinians, as a first step towards resolving the dispute between them.
[1994] Israel and the PLO sign an agreement for the implementation of self-government for the Palestinians in the Gaza Strip and the Jericho area (Cairo, 4 May)
Full diplomatic relations with the Holy See (15 June)
King Hussein of Jordan and Prime Minister Rabin declare an end to the state of war between the two countries (Washington, 28 July)
Agreement on Preparatory Transfer of Powers Judea and Samria to the Palestinians, in the fields of education and culture, health, social welfare, tourism and taxation (29 August).
Agreements with Morocco and Tunisia to establish interest offices, as a step towards diplomatic relations (Sep-Oct)
Israel-Jordan Peace Treaty signed (26 October)
Rabin, Peres, Arafat awarded Nobel Peace Prize.

 

Temple Mount & The Third Temple
 

Jadi, perang Israel dengan Palestina identik dengan perang antara orang Kristen dan Muslim adalah salah besar!!

Ternyata sebagian besar penduduk Israel beragama Yahudi (80%), Muslim 14.5% ; sedangkan agama Kristen (keseluruhan termasuk Orthodox) hanya 3%

 

 

Menantikan MESIAS Sang Pembebas
Berita tentang datangnya Juruselamat yaitu Mesias, telah lama dikabarkan sejak Nabi Musa. Semua orang Israel menantikan Mesias datang sebagai Juruselamat. Sebelum Yesus datang, bangsa Israel menyangka Mesias datang untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan bangsa-bangsa lain.
Bahkan murid-muridNya pada awalnya juga menyangka demikian, tersirat dalam pertanyaan murid-murid dalam Kisah Para Rasul 1:6, Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
Tetapi Tuhan datang sebagai Juruselamat, bukan untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan bangsa-bangsa lain, bukan pula datang untuk mendirikan kerajaan Israel, melainkan untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan untuk menyatakan datangnya Kerajaan Allah (Lukas 4:43), yang bukan berupa kerajaan jasmani di dunia (Lukas 17:20-21).
Kabar keselamatan telah lama dikabarkan, bangsa Israel sampai detik ini masih menanti-nantikan kedatangan Juruselamat yaitu Mesias yang mereka anggap akan membuat mereka bangsa merdeka.

 

Kitab Taurat / Torah  (kitab suci agama Yahudi)

Yesus datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17).

600 tahun kemudian muncul nabi Muhammad yang juga mengacu dari Kitab Torah dan Alkitab.

 

 

RINGKASAN :

(harus tahu persis terlebih dahulu sejarah asal muasal akar permasalahan sebelum ikut-ikutan memberikan dukungan atau kecaman pada pihak tertentu dalam permasalahan konflik antara Israel dan Palestina beserta bangsa Arab lainnya)

 

Israel sesudah ke luar dari Mesir, hidup bersuku-suku, mulai saling bersatu, dan akhirnya bersatu di bawah Hakim-hakim (belum punya raja).
Atas permintaan suku-suku bani Israel yang ingin seperti bangsa-bangsa lain punya raja, dan Allah dengan berat hati berkenan. Hakim Samuel mendapat perintah Allah untuk mengangkat Saul sebagai Raja pertama.
Saul sebagai Raja sering menduka-citakan Allah, sehingga Allah memerintahkan Samuel mengurapi Daud menjadi Raja menggantikan Saul.
Meskipun Saul segan dan ngotot, akhirnya Saul bunuh diri di medan perang beserta beberapa anaknya. Salah satu jenderal Saul sigap, mengangkat anak Saul (Isyboset yang baru berumur 4 tahun) menjadi raja menggantikan Saul.
Di sinilah terjadi ada dua Raja pada waktu Saul meninggal. Raja boneka (4 tahun), dan Raja Daud. Masing-masing dengan Ibukotanya sendiri.
Karena Alkitab hanya mengakui Raja yang ditunjuk oleh Allah melalui Samuel, maka Raja yang ditunjuk oleh Jenderal itu rupanya tidak pernah dianggap sebagai pewaris tahta yang sah. Raja boneka inipun hanya memerintah 2 tahun, dan beberapa masa kemudian dibunuh orang ketika sedang tidur.
Akhirnya pengikut Raja Saul berbondong bergabung dengan Kerajaan Daud, tinggal hanya ada satu Raja.
Daud digantikan oleh Salomo (anaknya - yang membangun the First Temple di Jerusalem).
Salomo digantikan oleh anaknya yaitu Rehabeam, dan ada penantangnya Yerobeam, sehingga pecah menjadi Raja Yerobeam di Utara (Israel), dan Raja Rehabeam di Selatan (Judah).
Selanjutnya yang utara ditaklukkan oleh Kerajaan Assyria, diboyong ke Assyria (The Lost 'Ten Tribes').
Yang selatan bertahan sementara, kemudian ditaklukkan oleh Babylonia, diboyong ke Babylon.
Waktu Kerajaan Babylon ditaklukkan oleh Kerajaan Persia (Raja Kyros), bani Israel yang di Babylon boleh kembali ke Kanaan (zaman Nabi Nehemia) membangun Jerusalem dan membangun kembali The Second Temple.
Sesudah itu daerah Kanaan / Palestina jatuh di bawah kekuasaan Macedonia (Aleksander Agung).
Setelah Aleksander mati, kejayaannya pudar terpecah-pecah di tangan jenderal-jenderal (Dinasti Ptolemic, kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Seleucid), maka ada kesempatan Dinasti Hasmonean (Jahudi) merdeka sementara waktu, sampai tibanya kekaisaran Romawi mengontrol daerah ini (63 SM).
Tibalah masa Perjanjian Baru di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi.

 

Tercetak gambar ini pada barang souvenir dari Tanah Israel

 

J E R U S A L E M

 

DARI AWAL MULA

Keinginan presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem telah memberikan pertanda awal akan matinya proses perdamaian Timur Tengah. Karena itu, adalah sangat masuk akal kalau para wakil dari 70 negara yang menghadiri Konferensi Perdamaian Timur Tengah di Paris mengingatkan kepada Trump bahwa solusi dua-negara merupakan cara terbaik untuk mengakhiri konflik antara Palestina dan Israel yang sudah menembus zaman.

Peringatan itu berarti bahwa AS dalam hal ini Trump tidak bisa secara sepihak menyatakan bahwa Jerusalem sebagai sepenuhnya milik Israel. Oleh karena itu, dengan akan memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem, berarti AS 'akan' mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Selama ini, baik Israel maupun Palestina sama-sama mengklaim sebagai yang berhak atas Jerusalem.

Dalam solusi dua-negara, Jerusalem 'hanyalah' salah satu meskipun yang paling penting dari sederet persoalan yang harus diselesaikan. Masalah lain menyangkut batas wilayah, keamanan, pengungsi, permukiman, dan juga hak-hak atas air. Harus diakui, kesemua masalah tersebut belum berhasil diselesaikan secara tuntas. Kesepakatan menyangkut batas wilayah yang tertuang di dalam Kesepakatan Oslo 1993 tidak bisa berjalan sepenuhnya. Solusi dua-negara juga mengandaikan bahwa kedua negara...Israel dan Palestina dapat hidup berdampingan secara damai, saling mengakui kedaulatan dan kemerdekaan pihak lain.

Khusus tentang Jerusalem, lebih pelik lagi. Status Jerusalem hingga kini masih menjadi sumber konflik. Karena itu, Jerusalem menjadi 'jantung' konflik Israel dan Palestina. Kedua belah pihak mengakui Jerusalem sebagai isu utama dan sumber utama legitimasi politik. Tanpa adanya penyelesaian Jerusalem, konflik kedua belah pihak tak akan dapat diselesaikan.

Dalam rumusan lain dikatakan, tidak akan ada resolusi mengenai konflik Israel-Palestina atau Arab-Israel yang dapat berjalan dan memberikan hasil tanpa solusi konsensual dan masuk akal mengenai masalah Jerusalem (Amnon Ramon, ed:2010). Dengan kata lain, berakhir tidaknya konflik di kawasan itu akan sangat bergantung pada penyelesaian masalah Jerusalem. Hal itu menegaskan betapa sentralnya isu Jerusalem dalam penyelesaian konflik Arab-Israel atau Palestina-Israel.

Ditambah lagi Jerusalem memiliki arti penting bagi 3 agama Abrahamic: Yahudi, Kristen, dan Muslim. Hal tersebut juga memberikan sumbangan semakin peliknya penyelesaian masalah Jerusalem. Karena itu, penyelesaian masalah Jerusalem harus mempertimbangkan kepentingan banyak orang dari berbagai agama yang menempatkan Jerusalem sebagai kota suci, kota penting, tetapi tidak tinggal di kota tersebut.

Usulan untuk menyelesaikan masalah Jerusalem sejak awal abad ke-20 sudah diajukan banyak pihak. Tetapi tidak satupun yang memberikan hasil. Pada dasarnya ada 3 aspek konflik di Jerusalem: pertama, menyangkut masalah kedaulatan; kedua, berkaitan dengan masalah manajemen dan kontrol atas tempat-tempat suci; dan ketiga, menyangkut yurisdiksi dan administrasi kota.

Siapa yang berhak atas kedaulatan Jerusalem? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yang pasti, baik Israel maupun Palestina sama-sama mengklaim sebagai yang berhak berdaulat atas Kota Suci itu. Israel mengklaim sebagai yang berhak atas kedaulatan seluruh wilayah Jerusalem; Palestina berusaha untuk mendapatkan wilayah Jerusalem timur yang mayoritas penduduknya adalah orang Arab, dan akan menjadikannya sebagai ibu kota. Selama perbedaan itu tidak terselesaikan, konflik pun akan terus berlanjut.

 

INTERNASIONALISASI STATUS

Sejarah Jerusalem demikian panjang. Sepanjang sejarah itu pula konflik membelit kota yang menurut catatan sejarah didirikan oleh orang-orang Kanaan pada 1800 SM. Sekitar 8 abad kemudian direbut oleh Daud; dihancurkan oleh orang-orang Babilon yang kira-kira tahun 587 SM. Setelah itu Jerusalem seperti piala bergilir direbut dan diduduki oleh orang-orang Persia, Yunani, Romawi, Arab, dan Turki (Trias Kuncahyono: 2008).

Pada masa pemerintahan Turki, Jerusalem memperoleh status administratif khusus. Regulasi Administratif 1877-1888 mengakui Jerusalem dan daerah sekelilingnya memiliki status 'otonomi' atau 'independen'. Akan tetapi, status otonomi itu tidak dalam arti yang sebenarnya, hanya Jerusalem memiliki hubungan langsung dengan pusat pemerintahan Turki Ottoman, yakni Konstantinopel, dan tidak di bawah gubernur.

Setelah Perang Dunia I berakhir dan Ottoman kalah, Jerusalem dikuasai Inggris atas nama Sekutu. Menurut kesepakatan perdamaian, Palestina diambil dari kekuasaan Ottoman dan diserahkan kepada Pemerintah Inggris di bawah mandat yang diberikan Liga Bangsa-Bangsa. Inilah yang disebut sebagai Mandat Inggris (1922-1948). Jerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Setahun sebelum mandat berakhir pada 29 November 1947, Majelis Umum PBB menerbitkan resolusi pembentukan negara Arab dan Yahudi di Palestina serta internasionalisasi Jerusalem. Inilah yang disebut Resolusi 181 tentang Rencana Pembagian Palestina (UN Partition Plan for Palestine).

Begitu Mandat Inggris dihentikan, kaum Yahudi memproklamasikan negara Yahudi dengan nama Israel 14 Mei 1948. Namun tak satu negara Arab pun mengakui proklamasi Israel itu karena mereka menentang Pembagian Palestina (Resolusi 181). Resolusi itu didukung oleh 33 suara, 13 menentang, 10 suara kosong, dan 1 abstain.

Menurut Resolusi 181, Jerusalem dinyatakan sebagai corpus separatum (entitas terpisah). Artinya, tidak menjadi bagian Arab ataupun Israel. Jerusalem dengan demikian ada di bawah rezim internasional khusus dan dikelola oleh Dewan Perwalian atas nama PBB. Tentang status Jerusalem sebagai corpus separatum itu ditegaskan kembali oleh Majelis Umum PBB lewat Resolusi 303 (1949).

Yang masuk dalam corpus separatum itu adalah wilayah Jerusalem dan daerah sekeliling Jerusalem yang terdiri dari Bethlehem dan Ain Karem. Status corpus separatum pertama kali diberlakukan atas kota Fiume dalam Kekaisaran Hapsburg pada 1776 oleh Putri Maria Theresa dari Austria.

Sementara itu tentang internasionalisasi Jerusalem (Resolusi 181), kedua belah pihak tidak memedulikannya. Karena setelah proklamasi Israel (yang di mata Arab adalah awal penjajahan) langsung terlibat peperangan. Tetapi Jerusalem secara militer diduduki oleh Jordania. Kekuasaan Jordania ini berakhir setelah Perang 1967 karena Jerusalem timur (Kota Lama) direbut Israel. Sejak saat itu, Jerusalem secara keseluruhan di bawah kekuasaan Israel.

Setelah menganeksasi kedua wilayah, Jerusalem timur (Kota Lama) dan Jerusalem barat (Kota Baru), Israel mengubah demografi, fisik, karakter sejarah, dan beberapa langkah yang melanggar status hukum Jerusalem, hukum internasional, dan resolusi PBB. Puncaknya pelanggaran itu dilakukan pada 30 Juli 1980 ketika Israel menyatakan Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Tindakan itu dikecam Dewan Keamanan PBB dalam Resolusi 478 (20 Agustus 1980), dikecam oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam pertemuan di Fez, Maroko (20 September 1980), dan juga oleh opini dunia (Henry Cattan:1980). Keputusan Israel itu telah mengobarkan ketegangan serta mengancam perdamaian dn keamanan.

 

SETELAH TAHUN 1967

Perang Enam Hari 1967 mulai tanggal 5 Juni hingga 10 Juni, dan akhir dari perang itu berdampak besar terhadap perdamaian Timur Tengah. Perang yang terjadi 50 tahun silam itu telah mengubah sekurang-kurangnya peta Timur Tengah. Di akhir perang, Israel merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir, Dataran Tinggi Golan dari Suriah, dan Tepi Barat serta Jerusalem Timur dari Jordania.

Semenanjung Sinai sudah dikembalikan kepada Mesir lewat Perjanjian Camp David. Jalur Gaza menjadi wilayah Palestina. Dataran Tinggi Golan masih dikuasai Israel. Tepi Barat sebagian masih dikangkangi Israel, sementara Jerusalem timur sepenuhnya masih dalam kekuasaan Israel.

Dengan demikian, di akhir perang, Jerusalem sepenuhnya dikuasai Israel. Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB mengecam pendudukan Israel dan aneksasi atas Jerusalem timur. Kedua lembaga PBB itu juga menyatakan bahwa tindakan yang diambil Israel melanggar status Jerusalem.

Lewat resolusi-resolusinya, Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB meneriakkan tentang 'status Jerusalem' atau 'status hukum Jerusalem'. Lewat Resolusi Nomor 252 (21 Mei 1968), DK PBB menyerukan Israel menghentikan langkahnya menyatukan Jerusalem (ada di bawah kekuasaannya). Tentang status hukum Jerusalem juga dinyatakan dalam Resolusi 32/5 (28 Oktober 1977) yang diterbitkan Majelis Umum PBB.

Sementara tentang 'status khusus Jerusalem' disebut dalam Resolusi DK PBB No. 452 (20 Juli 1979), No. 465 (1 Maret 1980), dan No. 476 (30 Juni 1980). Sejak resolusi pertama yang dikeluarkan Majelis Umum PBB, yakni Resolusi 181 (1947), hingga tahun 2010, PBB sekurang-kurangnya sudah menerbitkan 18 resolusi tentang Jerusalem. Akan tetapi resolusi-resolusi itu seakan berlalu begitu saja, dibawa angin ke gurun, dan Israel sama sekali tak mengindahkannya. Dan tidak ada konsekuensi apa-apa yang menimpa Israel karena tidak memedulikan resolusi-resolusi itu.

Yang terjadi justru sebaliknya. Setelah aneksasi Jerusalem timur (1967), luas wilayah Jerusalem yang dikuasai Israel bertambah hampir 3 kali lipat, dari 38 kilometer persegi menjadi 108 kilometer persegi, termasuk 71 kilometer persegi tanah Palestina yang diduduki. Selain itu, jumlah orang Yahudi yang tinggal di Jerusalem dan wilayah pendudukan pun terus bertambah. Penduduk 
Jerusalem timur bertambah dari 0 pada Mei 1967 menjadi 181.457 jiwa pada 2006 (Ziad Abuzayyad, Hilel Schenker, dan Ingrid Ross:2013); tahun 2016, tentu bertambah banyak karena kebijakan pembangunan permukiman baru (data terakhir 2016 jumlah penduduk Jerusalem 865.721 jiwa, terdiri dari 64% Yahudi, 35% Arab, dan lain-lain 1%).

Upaya untuk menyelesaikan masalah Jerusalem terus dilakukan meski dalam Perjanjian Camp David 1978 tidak dibahas. Hanya dalam perjanjian itu dikatakan akan dibahas secara terpisah, Baru pada Perjanjian Oslo 1 (1993), masalah Jerusalem dibahas juga dalam Deklarasi Washington 1994; Kesepakatan Sementara Israel-Palestina (1995), Rencana Perdamaian Arab Saudi (2002), 'Roadmap' Kuartet (2003), dan sejumlah usulan perdamaian. Akan tetapi semuanya belum menghasilkan kesepakatan tentang status akhir Jerusalem.

 

JALAN MASIH PANJANG

Sudah demikian banyak perundingan tentang Jerusalem, sidang-sidang yang membahas Jerusalem, dan seruan-seruan atau imbauan-imbauan untuk penyelesaian masalah Jerusalem. Akan tetapi membicarakan masalah pembagian Jerusalem atau mungkin lebih tepat penyelesaian status Jerusalem lebih mudah dibandingkan dengan pelaksanaannya.

Pembagian (kalau hendak dibagi) Jerusalem menjadi bagian Israel dan bagian Palestina...sulit untuk dilaksanakan karena peta demografi tidak mudah diubah menjadi peta politik (Alan Dershowitz:2005). Secara demografis dan geografis, Jerusalem memang sudah terbagi. Ada wilayah yang dihuni orang Yahudi; ada wilayah yang dihuni orang Palestina. Jerusalem juga sulit dibagi karena ketiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki tempat-tempat suci di kota itu. Yang perlu dicatat, tempat-tempat penting dan suci ketiga agama itu letaknya berdekatan satu sama lain.

Meskipun banyak proposal untuk merundingkan masalah Jerusalem, setiap rencana yang disepakati untuk menyelesaikan status Kota Suci itu selalu ditentang oleh para perunding selanjutnya. Di pihak Israel, ada paradoks dalam posisi resminya. Di Perjanjian Oslo (1993) disepakati bahwa Jerusalem menjadi salah satu subyek perundingan akhir permanen antara Israel dan Palestina. Akan tetapi Perdana Menteri Yitzhak Rabin dalam pidatonya di Knesset (Oktober 1995) menyatakan bahwa Jerusalem adalah tetap bersatu di bawah kedaulatan Israel (Alan Baker:2013).

Sikap dan pendirian seperti itu tentu menjadi penghambat terciptanya perdamaian atau sekurang-kurangnya tercapainya kesepakatan antara Israel dan Palestina. Itu karena sikap Palestina jelas: menjadikan Jerusalem timur (yang direbut Israel dari Perang 1967) menjadi ibu kota Palestina pada masa depan.

Usaha pertama untuk menyelesaikan masalah Jerusalem dilakukan tahun 1947, yakni dengan dibentuknya Komite Khusus PBB tentang Palestina (UNSCOP), yang beranggotakan 11 orang. Akan tetapi mereka tidak berhasil menyelesaikan masalah Palestina. Dan tentang Jerusalem, tim merekomendasikan agar Jerusalem dijadikan kota internasional. Laporan tim ini yang kemudian diadopsi menjadi Resolusi 181 (II). Tiga tahun kemudian Dewan Perwalian PBB (yang ditetapkan berdasarkan Resolusi 181), 4 April 1950 mengesahkan Undang-Undang Kota Jerusalem. Dalam pembukaan UU itu secara tegas disebutkan Jerusalem sebagai corpus separatum (entitas terpisah) di bawah Rezim Internasional Khusus dan seyogianya diurus PBB. Pernyataan dalam pembukaan itu ditegaskan dalam Pasal 1: "Undang-undang yang baru sekarang ini menegaskan Rezim Internasional Khusus bagi Kota Jerusalem dan mengangkatnya sebagai corpus separatum di bawah pemerintah PBB" (Trias Kuncahyono:2008).

Sejak itu nyaris tidak ada lagi pembahasan yang serius untuk menyelesaikan masalah Jerusalem meski dalam beberapa perundingan disinggung. Baru pada 15 Februari 2000, Tahta Suci dan PLO memperkenalkan "Kesepakatan Mendasar" mereka untuk meminta "Statuta Internasional Terjamin" untuk mempertahankan Jerusalem tetap di bawah kontrol internasional sesuai dengan hukum internasional (Maurizio Scaini:2001). Hal-hal yang disoroti antara lain soal kebebasan akses ke tempat-tempat suci dan tempat-tempat ibadah lainnya; kebebasan beragama bagi semua orang, kesamaan hukum bagi 3 agama monolitik, dan instuisi-instuisinya serta status para pengikutnya.

Sampai di sini Jerusalem dibahas dan belum menunjukkan titik-titik terang. Apakah status Jerusalem sungguh-sungguh tidak bisa dirundingkan? Itulah pertanyaannya.

(Trias Kuncahyono 2017)

 

 

 

GOD IS THE LORD WHO DOES MIRACLES

 

    

 

 

Powered  by:  DENVINCENT.Com.Inc.         Last Update:  November 21, 2011